<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4789682494913817153</id><updated>2012-02-16T20:59:56.059+07:00</updated><category term='Way of View'/><category term='view of life'/><category term='Resensi'/><category term='Short Story'/><category term='Cerpen'/><category term='Denny Mizhar'/><category term='A Rodhi Murtadho'/><title type='text'>A. Rodhi Murtadho</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>rodhi.murtadho@gmail.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01896127493455867075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-48ATUiOYUdc/ToBLbSIPmJI/AAAAAAAAABQ/H_11afs_XdI/s220/KUMALA%2BJPG..jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4789682494913817153.post-7121312640477156961</id><published>2011-09-26T16:36:00.000+07:00</published><updated>2011-09-26T16:36:41.905+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Denny Mizhar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='A Rodhi Murtadho'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Gerak Kepribadian Diri dalam Kumala Pusaka Kasih</title><content type='html'>&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;Denny Mizhar&lt;br /&gt;http://sastra-indonesia.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan sastra di  Lamongan cukuplah dinamis. Hal tersebut dapat kita lihat pada  agenda-agenda sastra di Lamongan, walaupun menurut pengamatan saya masih  belum masif. Tidak hanya agenda sastra, tetapi penerbitan buku menjadi  media pembacaan atas dinamisnya sastra di Lamongan. Ada penerbit Pustaka  Pujangga, Pustaka Ilalang, LA Rose. Baru-baru saja penerbit Pustaka  Pujangga, Penerbit yang digawangi oleh penyair Nurel Javissyarqi  menerbitkan buku-buku baru. Kebanyakan buku yang diterbitkan adalah buku  sastra. Salah satunya adalah Novel Kumala Pusaka Kasih Karya A. Rodhi  Murtadho, penulis yang karyanya sudah banyak terjilid dalam buku-buku  kumpulan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis membaca Novel Kumala Pusaka Kasih  tersebut ada beberapa hal yang mengelitik buat saya. Di antaranya alur  cerita. Hal tersebut serupa yang diungkap oleh Bambang Kempling  sastrawan Lamongan dalam komentarnya di caver belakang buku: “Imajinasi  yang kuat bahkan terkadang nyasar ke dalam dunia jungkir balik dengan  metafor-metafor yang dapat menjadikan pembaca terperangah….”. Dari  kejutan-kejutan yang di hadirkan oleh penulis yang membuat alurnya  berbolak-balik. Hal tersebut membuat rasa penasaran menguat. Bagaimana  nasib para tokoh dalam kisah novel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain alur cerita  yang menjadi menarik dan dapat dijadikan kajian secara psikologis adalah  nasib tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Novel ini menceritakan  bagaimana kepribadian yang bermuasal dari masa lalu hinggap dalam  perjalanan masa-masa ke depan tokoh-tokohnya. Untuk memulai  mengungkapnya hasil dari pembacaan, baiknya saya tulisankan puisi yang  berjudul “Anak” karya Kahlil Gibran dalam bukunya Sang Nabi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANAK&lt;br /&gt;Anak-mu bukan milikmu.&lt;br /&gt;Mereka putera-puteri Sang Hidup&lt;br /&gt;yang rindu pada diri sendiri.&lt;br /&gt;Lewat engkau mereka lahir,&lt;br /&gt;namun tidak dari engkau&lt;br /&gt;Mereka ada padamu, tetapi bukan hakmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan mereka kasih sayangmu,&lt;br /&gt;tetapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,&lt;br /&gt;sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.&lt;br /&gt;Patut kau berikan rumah untuk raganya,&lt;br /&gt;tetapi tidak untuk jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,&lt;br /&gt;yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau boleh berusaha menyerupai mereka,&lt;br /&gt;namun jangan membuat mereka menyerupaimu.&lt;br /&gt;Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,&lt;br /&gt;pun tidak tenggelam di masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau busur,&lt;br /&gt;dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.&lt;br /&gt;Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian,&lt;br /&gt;Dia merentangmu dengan kekuasaanNya,&lt;br /&gt;hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.&lt;br /&gt;Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah&lt;br /&gt;Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,&lt;br /&gt;sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi  di atas mengantarkan saya atas pemahaman dari masalah-masalah yang  timbul dari konflik-konflik para tokoh. Bahwa ternyata masa kanak adalah  masa yang menentukan bagaimana anak tersebut memiliki kepribadian diri  di masa depanya. Dalam Novel Kumala Pusaka Kasih, mengisahkan seorang  anak yang lahir dari keluarga harmonis pada awalnya tetapi selanjutnya  menjadi berantakan. Ketika keharmonisan seorang Bapak dan Ibu tak  dirasakannya lagi. Bapak selingkuh dengan sekertarisnya di perusahaan  yang dipimpin. Ibu pun tak mau kalah membalas dengan perselingkuhan  juga. Namanya anak kecil di ajak ke mana saja sama orang tuanya pasti  akan menurut. Yang diinginkan adalah senang dan dapat mainan. Kumajas  nama anak itu. Dengan segala ingatan masa lalu yang mempengaruhi  kepribadiaannya. Hingga dia bertemu Eliza lalu bersetubuh dengannya.  Tetapi tidak hanya bercinta dengan Eliza, Kumajas juga berhubungan badan  dengan Hendry teman sekerjanya. Eliza ternyata punya masa lalu yang  tidak indah. ketika kecil dia mendapat julukan nonok artinya kemaluan  perempuan. Eliza ditinggal oleh bapaknya, sebab itu dia seakan tidak  bisa memunculkan rasa hormat pada laki-laki. Dia ingin seperti Ibunya  ketika melihat ibunya bercinta sama bapaknya ketika Bapaknya masih ada.  Dan Eliza melihat Ibunya mengalahkan Bapaknya hingga tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak  ubahnya Hendry juga memiliki masa kanak yang aneh. Dia mengidap  kleptomani. Yakni mencuri untuk kesenangan meskipun barang yang  dicurinya tidak ada guna bagi dirinya. Kedua orang tua Hendry membawa ke  psikiater hingga dukun tapi tak ada kesembuhan. Malah paranormal yang  hendak menyembuhkan memberikan nasehat, hanya orang tuanya sendiri yang  mampu menyembuhkan penyakitnya&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Masa kecil memberi bekas luka  ketika hari telah beranjak dewasa. Saya melihat pada dialog Kumajas pada  Ibunya “Lantas, aku meniru siapa? aku berasal dari kalian, kehidupan  pertamaku dan mengukirkanku dengan jiwa kalian” (hal 25). Pembrontakan  Kumajas adalah bentuk dari pengakuannya bahwa yang menjadikan dirinya  begitu adalah masa kanaknya dan yang mengajarkan dirinya tidak bermoral  dalah orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari situ saya dapat menarik kesimpulan  tentang teorinya Sigmund Freud tentang masa-masa dalam pertumbuhan yang  berpengaruh dalam kepribadian seseorang. Hal senada juga diungkapkan  oleh Supaat I. Lathief penulis buku sastra “Eksistensialisme-Mistisisme  Religius” dalam komentarnya atas novel tersebut bahwa novel Kumala  Pusaka Kasih berusaha membongkar abnormalitas sex dan kehidupan pribadi  kumajas dengan teori Sigmund Freud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah karya sastra memang  realitas yang hidup. Dihidupi tokoh-tokoh yang bersuara dalam ceritanya.  Bisa jadi hal tersebut adalah cermin kondisi yang diamati ataupun  dialami penulis. Maka, teks sastra pun dapat dijadikan kajian untuk  melihat fenomena-fenomena yang terjadi dalam arus budaya yang terjadi  melingkupi penulis. Bisa jadi juga hasil dari perenungan-perenungan  penulis yang memunculkan ide dan gagasan-gagasan baru serta memberi  petunjuk bagi pembacanya atau bagi ilmuwan sastra ataupun non sastra.  Karena ilmu itu holistik tidak parsial. seperti halnya Novel ini,  bentuknya sastra yang merangkai fenomena psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Kumala  Pusaka Kasih yang di tulis oleh A. Rodhi Murtadho menarik untuk dibaca  dan dijadikan pengayaan kajian psikologi serta maramaikan gerak sastra  Indonesia khusunya novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Kumala Pusaka Kasih&lt;br /&gt;Penulis: A. Rodhi Murtadho&lt;br /&gt;Cetakan: I, Februari 2010&lt;br /&gt;Hal : 12 X 19 cm 196 Hlm&lt;br /&gt;Penerbit : PUstaka puJAngga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://sastra-indonesia.com/2010/06/gerak-kepribadian-diri-dalam-kumala-pusaka-kasih/"&gt;http://sastra-indonesia.com/2010/06/gerak-kepribadian-diri-dalam-kumala-pusaka-kasih/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4789682494913817153-7121312640477156961?l=rodhi-murtadho.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/feeds/7121312640477156961/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4789682494913817153&amp;postID=7121312640477156961' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/7121312640477156961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/7121312640477156961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/2011/09/gerak-kepribadian-diri-dalam-kumala.html' title='Gerak Kepribadian Diri dalam Kumala Pusaka Kasih'/><author><name>rodhi.murtadho@gmail.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01896127493455867075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-48ATUiOYUdc/ToBLbSIPmJI/AAAAAAAAABQ/H_11afs_XdI/s220/KUMALA%2BJPG..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4789682494913817153.post-8511670244876494972</id><published>2010-11-13T03:49:00.000+07:00</published><updated>2010-11-13T03:49:01.483+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='A Rodhi Murtadho'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Short Story'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Way of View'/><title type='text'>Spektrum</title><content type='html'>By A. Rodhi Murtadho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spektrum terus memancar. Mengaromakan anyir yang tak henti-henti. Menindas segala galau dan cemas. Suara-suara sumbang tak mendamaikan. Amarah Karti menambah keruh pikiran. Murka semua orang di kala kembang desa yang banyak dipuja lelaki tiba-tiba seperti orang gila. Semua lelaki diajaknya senggama. Membiarkan mereka menikmati tubuhnya yang dulu benar-benar dijaga kesuciannya agar benar-benar menjadi kembang desa tulen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia selalu meramu rayuan yang sudah terdengar memuakkan. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tapi lelaki tak memperdulikannya, yang penting ujung-ujungnya mereka bisa menikmati tubuh pualam. Mencicipi bibir merah delima. Harum rambut yang tergerai menyapa. Sampai mereka bisa memasukkan nafsunya untuk merasakan kenikmatan yang telah banyak dicicipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai alam menyejukkan hati. Menyegarkan kepenatan yang terbawa. Damai. Karmi terus menyandarkan kepala di pundaknya. Harapan yang selama ini terus berpendar dalam dirinya. Cumbu rayu sudah tak begitu asing mereka lakukan. Pemuas nafas yang sudah jarang merasakan hangat nafas sendiri. Membiarkan diri mereka menyelam dalam segara. Saling memberi kelembutan, kesejukan, kenikmatan, kehangatan sampai mencapai puncak, kepanasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian mereka terlepas dengan mulut sudah terengah-engah, menyatu. Membuka BH mereka. Tangan mereka saling mengklentit dengan nada dan cibiran yang merindu, merenda dalam kamar Karti. Jendela sengaja dibiarkan terbuka. Membiarkan angin masuk. Mendinginkan tubuh mereka yang sudah basah dengan keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengenal Katmo sudah setahun yang lalu. Pertemuannya di sawah membuat Katmo selalu datang di rumahnya ketika malam minggu. Melancarakan kata-kata ke benaknya. Ia tak juga tergugah. Ia ingat kalau kalimat manis selalu ia dapatkan. Selalu ibunya dapatkan dari ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekaguman pada ayahnya, pada awalnya, membuat ia mempercayai begitu saja ucapan. Apapun itu. Satu-satunya orang yang dianggap mengerti dan selalu memenuhi kebutuhannya dan ibu. Tak menaruh curiga. Kenyataan berbicara lain. Ayahnya selalu tak menepati sendiri kata-katanya. Mengingkari segala janji dan sumpah. Ia terbius dalam kekecewaan yang dilihat dalam pertengkaran ayah dan ibunya setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya duduk termangu di beranda. Menyaksikan perang yang tak berujung. Ayah dan ibunya. Ia tahu kalau ayahnya selalu berkelakuan tak mengenakkan bagi ibu dan dirinya. Ia tahu kalau ibu yang dikenalnya penuh kelembutan dan kasih sayang. Selalu bersabar. Menceritakan tentang kedamaian meski setiap hari ia melihat ibunya tak bisa berdamai. Menceritakan kancil yang cerdik meski tiap hari ia melihat ibunya hanya pasrah menerima tamparan dari ayahnya. Tak bisa menghentikan segala kemunafikan. Ia hanya tahu tubuh ibunya lebam karena ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan tak menyurutkannya untuk selalu berusaha berbuat baik kepada ayahnya. Menawarkan segala kasih yang tak bisa diberikan lagi ibunya yang telah meninggal. Mungkin meninggal karena kesal disiksa. Ia melucuti pakaiannya sendiri di depan ayahnya yang tengah mabuk. Ia ingin menjadi pengganti ibu yang lembut dan penuh kasih sayang. Ia memperlakukan ayahnya seperti ibu memperlakukannya. Dulu, ia pernah mengintip ibu dan ayahnya yang berada di kamar sedang terengah-engah penuh keringat. Saling tindih. Menawarkan segala kenikmatan tubuh untuk dikulum dalam bibir. Melumat segala tonjolan yang menjebak rasa nikmat. Ia tahu ibu tersenyum meski ayahnya memukul dan menggigitnya. Ia hanya heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya sepeti dimasuki roh banteng. Menggosokkan kakinya siap meluncur. Hidungnya mulai mengendus aroma perawan anaknya. Hanya tahu kalau yang berada di hadapannya hanya seorang perempuan yang akan memberikan kenikmatan dari selangkangannya. Tak mengenal lagi darahnya juga mengalir di sana bersama istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terus mengenduskan nafasnya yang tak juga teratur oleh tindihan ayahnya. Ia tahu ibu selalu tersenyum ketika ayahnya dengan erangan nafas babi berada di atasnya. Ia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembang desa sudah menjadi momok yang khas di desa Tanggul. Sosok yang melantunkan nama Karti. Mengalun dari berbagai percakapan. Banyak jejaka yang tak bisa melewatkan untuk tak membicarakannya. Membahas segala andai yang bisa dilakukan bersamanya. Sebagai pasangan atau kadang sebagai pembantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang ingin memiliki keindahannya. Karmi terus berusaha mendekati Karti dengan setangkup harap cemas. Mengetahui segala yang menimpanya. Ia tahu kalau dia punya masalah hampir sama dengannya. Lelaki. Tidak membencinya. Tapi kadang menjadi momok yang menakutkan. Ia banyak bercerita panjang lebar tentang dirinya. Kisah yang sama. Dia seperti mendengar bibirnya sendiri mengucapkan kata-kata. Dia merasakan kepedihan yang sama dengan ia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu kalau aku tak pernah membenci lelaki, hanya saja jiwaku ini sudah terukir seolah sama dengan mereka. Ketika ayah merenda diriku dengan nada keras kemarahannya atau pukulan-pukulan di sekujur tubuh,” dia berucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku, harus menjadi pengganti ibu, suami ayah. Meninabobokkannya di antara selangkangan. Di atas tubuhku,” ia berucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah menjadi laki-laki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku butuh lelaki sepertimu, bukan seperti ayahku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada pemandangan aneh yang menguras simpati. Mereka bersahabat. Bergantian saling mendatangi rumah. Mencibir setiap kelam di antara pengapnya udara kamar. Berbagi kasih. Bingung menerkam. Tak ada mangsa atau pemangsa. Hanya gesekan-gesekan lembut wangi tangan. Belaian halus mengalun dari rambut sampai kaki. Lidah-lidah mulai bergentayangan. Peluh mulai berleleran. Tak ada rasa canggung. Semua bentuk sama menyatu dalam kerinduan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lenguhan selalu terdengar dari kamar ketika mereka bersama. Menadakan kebimbangan yang sama. Harus terpekur lama di atas ranjang untuk menunggu haru. Membentangkan pikiran tak menjelaskan apapun. Semua samar dalam semilir penat. Tak mengisyaratkan. Tak juga menandakan. Apalagi menghasilkan. Hanya kepuasan dan kebutuhan terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desas-desus itu sudah terdengar sampai sudut-sudut desa. Bahkan sampai mancadesa. Dia pun mendengar. Tak memprotes atau mengumpat. Dia hanya pasrah pada yang ada. Merasa, mungkin tak ada kelayakan. Tahu dia dan ia sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya kau akan menikah dengan Katmo?” kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya aku tak mau menikah dengan orang yang tak mengerti tentang diriku. Aku tahu tubuhku yang dibutuhkannya. Pemuas nafsu. Semua atas paksaan ayah. Maafkan aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak salah. Tidak perlu minta maaf. Rasa kita yang salah, tak terarah dengan benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi bagaimana pun aku masih tetap membutuhkan kelembutanmu bukan kekar otot darinya. Aku hanya akan terpuaskan denganmu. Aku yakin itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kita percaya, kita bisa melakukannya selagi kita mau. Toh tak ada yang curiga. Mereka hanya tahu kita adalah sahabat karib. Itu sudah jelas. Kita tak butuh pengakuan resmi masyarakat desa akan hubungan kita. Status hanya akan memperkeruh suasana. Lebih-lebih keadaan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam dingin walau tak berkabut serasa dingin menyelimuti. Hangat tubuh merapat memenuhi ihwal. Suara jangkrik terus menjadi penyemangat. Gurauan menjadi penghangat diantara nafas yang semakin cepat. Nyamuk tak berani mendekat lantaran takut lekat dengan keringat. Dia sengit melancarkan serangan mautnya. Mengulurkan lidah dan menggoyang-goyangkannya masuk ke dalam mulut ia. Beranjak ke tubuh. Menyapu bersih dan licin sampai masuk selangkangan. Ia hanya mengeluh tak karuan. Terdiam tubuh. Tetapi tangan ia selalu bergerak dalam tubuh dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katmo telah menceraikannya. Perhatian yang ia berikan dirasakan Katmo sangat kurang. Kini ia hanya sendirian di rumah. Bersama ayahnya yang sudah tak berdaya. Kembang ranjang. Bicara pun sudah susah. Menggantung nyawa. Sudah tak berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia semakin sulit menemui dia. Alasan kesibukan dari dia yang ia terima tak memuaskannya. Ia pernah tahu suatu malam kalau dia dibonceng seorang lelaki. Melekat tubuhnya. Tak jelas siapa lelaki itu karena kepulan pekat hitam malam menutup mukanya. Hanya suara dia yang bisa menunjukkan dengan jelas mukanya. Itu pun terlihat dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kaget dengan sangat saat pintu dibuka. Ia muncul tak permisi seperti biasanya. Dia bingung beranjak. Tubuh Katmo mendekapnya erat. Menindihnya. Dia hanya menyapa bingung. Dia tak bergerak sedikit pun. Mereka bertiga saling memandang. Mantan suami dilihat di atas tubuh dia. Tidak percaya ia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia segera melarikan kakinya keluar kamar dan terbang keluar rumah. Ia sulit percaya kalau dia sudah berubah. Tapi mengapa dia memilih mantan suaminya. Ia meninggalkan Katmo demi dia. Mengapa dia tak mengerti juga. Ia menganggap dia adalah orang yang paling mengerti dirinya. Ia sampai di rumah dan kepedihan harus bertambah ketika ia tahu ayahnya sudah terbujur kaku di ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamongan, 9 Juli 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4789682494913817153-8511670244876494972?l=rodhi-murtadho.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/feeds/8511670244876494972/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4789682494913817153&amp;postID=8511670244876494972' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/8511670244876494972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/8511670244876494972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/2010/11/spektrum.html' title='Spektrum'/><author><name>rodhi.murtadho@gmail.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01896127493455867075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-48ATUiOYUdc/ToBLbSIPmJI/AAAAAAAAABQ/H_11afs_XdI/s220/KUMALA%2BJPG..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4789682494913817153.post-172209412396428768</id><published>2010-11-13T03:47:00.000+07:00</published><updated>2010-11-13T03:47:24.859+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='A Rodhi Murtadho'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Short Story'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Way of View'/><title type='text'>Babi dalam Dompet</title><content type='html'>By A. Rodhi Murtadho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dompet lengket di saku celana. Babi terus mendengkur. Paijan terus berjalan dari rumah ke rumah. Sales. Bukan kerja yang sembarangan. Tak semua orang bisa menekuni profesi ini. Paling tidak harus punya mulut yang kuat bicara. Lidah yang pandai bersilat. Tatapan mata meyakinkan. Bau badan tidak kecut. Baju rapi. Sepatu mengkilat. Senyum menawan dengan gigi putih dan bau nafas tidak apek. Potongan klimis biasanya ikut mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali Paijan mengetuk pintu, dia harus memegang erat dompetnya. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Setiap ketukan mengakibatkan dengkur yang keras Babi yang ada di dompet. Kalau sampai tiga kali lebih ketukan, biasanya Babi itu berusaha meloncat keluar. Menggedor pintu dan menyeruduknya hingga jebol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat siang, Bu!” ucap Paijan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siang, ada apa ya?” sahut Salamah, Ibu rumah tangga. Leher, tangan, dan kaki berkilatan penuh dengan emas. Biar paras tak begitu lembut tapi kilau benda yang ada di tubuhnya membuat para lelaki berpikir dua kali. Ingin mengambil semua perhiasan dan menjualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya punya kosmetik. Lengkap, Bu. Ada bedak, gincu, per…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah…Sudah. Saya tidak mau membeli. Saya sudah punya banyak. Lemari saya sudah penuh dengan barang-barang seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ini bagus lho, Bu. Asli buatan negeri tropis. Sejuk. Menjadikan kulit mulus, cantik. Apalagi parfum ini. Hidung lelaki akan mengikuti Ibu. Apalagi yang hidung belang. Banyak artis yang menggunakan ini, Bu. Wah, pokoknya dijamin Ibu akan cantik. Kalau tidak percaya, boleh Ibu coba.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus terakhir ketika ada penolakan dari calon pembeli. Mencobakan. Paijan mulai mengeluarkan satu set kosmetik. Mulai melukis dengan hati-hati wajah Salamah. Menyemprotkan minyak wangi pada area bebas biar tidak bercampur peluh. Menghindari kontaminasi. Menjaga agar minyak wangi tidak berbau tak karuan. Apek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, Ibu lihat kan. Ibu bertambah cantik. Makin cantik. Saya yakin suami Ibu bakal betah di rumah. Tidak akan selingkuh karena sudah melihat Ibu yang aduhai memikat hati. Eh…sampai-sampai saya sendiri juga tertarik pada Ibu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Mas, bisa saja. Boleh saya pinjam cerminnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijan mendekatkan cermin ke tangan Salamah. Kanan kiri Salamah memandangi wajahnya dengan bergaya manja. Cantik, lirih ucapnya. Rasanya juga sejuk dan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm…! Oke! Saya membeli kosmetik ini tapi uangnya lusa. Kosmetiknya ditinggal di sini saja. Uangnya ada di kotak dalam lemari. Saya mau mengambil tapi kuncinya dibawa suami saya. Bisa ya, Mas. Pasti saya bayar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babi yang ada di dompet Paijan meronta keluar. Seakan tak terima barang dagangan dikredit. Dicegah Paijan. Dipegang erat dompetnya. Tak membiarkan Babi itu nyruduk keluar atau dengkurannya terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, bolehlah, Bu. Lusa saya akan datang lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam bertambah kalut. Bau kemenyan lekat dan menyengat. Senyum Lasmini terus menghiasi mata Paijan. Lasmini sudah mengerti isyarat dari Paijan. Babi dalam dompet segera keluar. Lasmini harus terlentang membuka seluruh pembungkus badan. Menyeringai. Mengangkang. Babi keluar dari dompet lantas meloncat keluar dan mendarat di atas Lasmini. Dengkurannya membuat tubuh Lasmini bergetar. Moncong hidung dihenduskan di sekujur tubuh. Menggeliatkannya. Lasmini terpejam merasakan kehangatan yang menempel di selangkangan masuk ke tubuh. Babi itu menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lasmini lantas menyalakan lampu ublik. Kemenyan ditambahkan pada bara arang membara. Mantra diucapkan. Ia ingat pesan suaminya kalau rumah tujuan babi adalah rumah Bu Salamah. Telanjang tubuh Lasmini beraromakan kemenyan membuat nyamuk tak doyan menempel. Lasmini duduk bersila. Berkonsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ambil, ambil, hisap, hisap. Hisap semuanya,” perintah Lasmini dalam mantranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang bertebaran dari langit-langit kamar yang jelas tak berlubang. Entah dari mana. Ia tak mempertanyakannya. Hanya melihat uang berlembar-lembar bertaburan. Lasmini tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada suara di balik pintu kamarnya. Dengkuran Babi. Mungkin hanya perasaan saja, pikirnya. Mas Paijan belum selesai menghisap uang. Aneh yang dirasakan Lasmini. Uang bertaburan tak henti-henti. Banyak sekali. Namun yang ada di lantai hanya sedikit. Ke mana uang itu? Lasmini hanya keheranan. Pasrah. Mungkin memang sedikit yang didapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salamah terus mendesak suaminya, Parman, untuk pergi ke rumah Paijan. Sales Kosmetik. Sudah sejak sore Salamah menyiapkan kembang, kemenyan, dan lilin. Namun suaminya menolak. Salamah tak peduli dan langsung memantrai suaminya yang tidur-tiduran. Menjadikannya babi. Dengan begitu, Salamah mudah memerintahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergi kau ke rumah Paijan. Hisap semua uangnya. Aku tunggu hasilnya di kotak dalam lemari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupa binatang membuat jiwa binatang ada dalam diri Parman. Babi Parman bergegas keluar rumah. Tanpa membuka pintu. Dalam perjalanan, Babi Parman menjumpai banyak babi berkeliaran. Saling menyapa dengan dengkuran. Tak memperdulikan arah mereka. Biarpun ada salah satu babi yang menuju rumahnya. Babi Parman tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babi Parman memasuki rumah Paijan. Tanpa permisi atau mengetuk pintu dan langsung menuju kamar yang berbau uang. Membenturkan kepala di pintu dan mendengkur. Dengan begitu uang yang ada dalam kamar langsung masuk ke kotak dalam lemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses penghisapan Babi Paijan dan Babi Parman terus berlangsung mungkin selamanya akan tetap berlangsung. Sampai kiamat pun mungkin terus berlangsung. Uang Parman di kotak dalam lemari dihisap Babi Paijan kemudian masuk ke kamar Lasmini. Setelah uang masuk ke kamar Lasmini, dihisap Babi Parman masuk ke kotak di dalam lemari Salamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lilin di hadapan Salamah mulai habis meleleh. Merasa khawatir dengan suaminya yang tak kunjung kembali. Lilin segera habis. Kalau tidak kembali sebelum lilin habis, Parman harus menunggu malam berikutnya untuk dimantrai lagi untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salamah tak mampu berbuat apa-apa lagi. Lilin telah habis. Merasa putus asa. Salamah keluar membuka pintu kamar. Tak disangka seekor babi terus mengeluskan kepala di dinding kamar. Salamah menghampiri babi itu. Menggendong masuk. Memperlakukannya seperti bayi. Mengelus, mencium, dan menimang di dadanya. Salamah menuju kamar. Babi itu menyeruduknya dengan dengkuran. Ekornya berkibas tak tentu arah. Mungkin sedang bernafsu. Salamah pun segera membuka pembalut tubuh. Takut kalau keinginan Babi itu tidak dituruti, dirinya akan terkena kutuk. Berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minyak tanah lampu ublik Lasmini mulai habis. Tubuhnya mulai merasa dingin. Adzan subuh akan datang sebentar lagi. Kalau suaminya tak kembali berarti ia tidak akan bisa keluar rumah. Harus telanjang terus. Menunggu sehari untuk memantrai Babi. Lasmini bingung. Tak ada tanda bahaya. Uang masih bertebaran. Tapi lampu mulai redup dan mati. Menghentikan tebaran uang. Mungkin Mas Paijan menggoda, pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lasmini beranjak dari duduknya. Melangkahkan kaki dan membuka pintu. Ia menemui babi yang menempelkan kepalanya pada dinding luar kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas. Mengapa tidak masuk. Sekarang lihat rupa mas. Babi. Sungguh babi. Kalau Mas masuk sebelum lampu mati tadi, pasti bisa berubah lagi. Sekarang, lampu sudah mati. Mas harus menjadi babi seharian. Sementara aku juga harus telanjang seharian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lasmini menggendong Babi itu masuk ke kamar. Mencoba memantrainya tapi gagal. Lasmini pun memutuskan untuk menunggu esok malam. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Memposisikan dirinya di samping Babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babi itu mulai berulah. Lasmini pun tak segan lagi. Membiarkan tubuhnya diendus dengan dengkuran babi. Dijilati lidah yang penuh liur babi. Lasmini membuka selangkangan. Mengangkang di atas ranjang. Tanda Lasmini mengizinkan babi untuk menindihnya. Kadang dari atas. Kadang dari kiri. Kadang dari kanan. Kadang dari belakang. Tetapi kadang juga di bawah, ditindih Lasmini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam kembali mengalir. Babi Paijan dan Babi Parman tak dimantrai oleh istri mereka untuk menjadi manusia. Mereka langsung diperintah untuk menghisap uang dari tetangga yang banyak uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babi Paijan yang berada dalam genggaman Salamah kembali ke rumah. Kepada istrinya, Lasmini. Babi Parman yang berada dalam buaian Lasmini juga kembali ke rumahnya. Alasan yang sama yang mereka utarakan kepada istri mereka. Capek dan besok harus bekerja. Agar tetangga dan teman kerja tak banyak menaruh curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari, Parman berangkat bekerja di pabrik. Paijan juga berangkat bekerja menjadi sales sambil meniliki rumah hartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijan mengetuk pintu rumah Salamah. Suara langkah mengalun dari dalam. Membukakan pintu. Senyum dari gigi berlarik menyeringai. Menyambut Paijan yang juga lekat dengan senyum. Saling mengangguk dan menyapa. Salamah mempersilahkan Paijan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh. Begini, Bu. Saya mau…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, saya sudah mengerti. Tunggu sebentar. Saya ambil uangnya dulu. Tunggu sebentar. Pasti cepat kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelebat Salamah masuk kamar. Salamah keluar dengan membawa sejumlah uang dan diberikan kepada Paijan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijan, dengan tersenyum, menerimanya. Diambil dompet. Berniat untuk memasukkan uang yang baru diterima dari Salamah. Tiba-tiba Babi yang ada di dompetnya nyruduk keluar. Belum sempat Paijan memasukkan uang. Paijan lupa karena terlalu bahagia menerima uang. Babi itu meloncat kesana kemari. Mengitari Salamah lantas menyeruduknya. Babi itu kembali berada di atas tubuh Salamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 7 Juni 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4789682494913817153-172209412396428768?l=rodhi-murtadho.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/feeds/172209412396428768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4789682494913817153&amp;postID=172209412396428768' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/172209412396428768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/172209412396428768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/2010/11/babi-dalam-dompet.html' title='Babi dalam Dompet'/><author><name>rodhi.murtadho@gmail.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01896127493455867075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-48ATUiOYUdc/ToBLbSIPmJI/AAAAAAAAABQ/H_11afs_XdI/s220/KUMALA%2BJPG..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4789682494913817153.post-2100862563572105189</id><published>2010-11-13T03:45:00.004+07:00</published><updated>2010-11-13T03:45:46.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='A Rodhi Murtadho'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Short Story'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Way of View'/><title type='text'>Pembantu Bintang Lima</title><content type='html'>By A. Rodhi Murtadho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembantu bintang lima. Sudah menjadi cita-cita Lina untuk menjadi pembantu. Sejak keinginan itu tebersit dalam benak. Berbagai usaha pun dilakukan untuk mewujudkannya. Belajar dari berbagai macam bacaan yang ada di sekolah. Magang langsung menjadi pembantu ataupun bergabung dalam organisasi masyarakat yang kerjanya membantu orang. Semua itu dilakukan untuk mencapai pangkat tertinggi pembantu. Bintang lima. Setara dengan jendral, pikirnya. Tentu saja akan menjadi terobosan baru dalam dunia karir perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran, majalah, radio, televisi, dan berbagai macam media memberitakan bencana yang sedang terjadi. Catatan jumlah korban dan kerugian. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Terpampang begitu jelas. Total keseluruhan yang jelas makin bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lina mengemasi peralatan pembantu yang ia gunakan. Perlengkapan yang selalu ia bawa setiap ingin membantu. Menjadi pembantu. Darah ‘O’ yang ia punyai. Sejumlah uang yang memenuhi tasnya. Beberapa koper pakaian bertumpuk. Buku pelajaran, buku bacaan buku tulis, dan alat tulis. Kardus-kardus berisi mie instan. Tenaganya juga dipersiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua sudah masuk ke truk, Pak Marno?” tanya Lina pada sopir truk yang setia menemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siap Non, tapi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi apa pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua insan yang dipenuhi kegalauan terdiam terpaku. Mematung tak bergerak. Sejenak, Marno ingat truk yang akan dikendarai hampir tak bersolar. Bingung. Uang gajinya bulan ini dari mandor Parjo sudah diberikan kepada istrinya, Marini. Biasanya urusan solar selalu menjadi tanggung jawabnya. Walau sudah jelas kalau memang ada jatah dari mandor Parjo, ayah Lina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi apa, Pak Marno?” memecah diam, “nanti sore kita harus berangkat. Kalau semua belum disiapkan, tentu keberangkatan kita bisa tertunda lama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sol…lar, Non.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, bukankah sudah diberikan Ayah. Biasanya selalu begitu kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Be…betul, Non. Tapi uangnya sudah terlanjur sudah saya saya berikan istri saya untuk SPP anak-anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno memang orang yang tak begitu berada. Kehidupan pas-pasan. Rumah kayu sedikit reot. Lantai tak berubin. Roda kelancaran hidup bergantung kepada mandor Parjo. Bekerja kepadanya sebagai sopir truk. Namun akhir-akhir ini harus menuruti perintah mandornya untuk menemani Lina. Keluar kota, bahkan keluar pulau untuk mengangkut segala kebutuhan yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lina mengambil beberapa lembar uang dari tasnya. Tak ada perintah berarti dari mulut Lina. Hanya diam. Namun isyarat Lina segera menggegaskan Marno untuk segera berangkat membeli solar. Lina masuk ke dalam rumah. Mengistirahatkan tubuhnya di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lina terhenyak ketika tiba-tiba ia sudah sampai di lokasi bencana. Naluri pembantu yang ia punyai seakan musnah. Ia tak bisa menggerakkan dirinya. Kerumunan mayat dan puing-puing kesengsaraan terpampang. Ia merasakan darah golongan donor resepiennya muncrat keluar. Mencari lahan manusia yang kekeringan tak bergerak, tak tersadar. Darah yang ia persiapkan malayang mengitari air mata kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marno, apa yang terjadi?” gumamnya lirih tak bertenaga. Tak juga ada jawaban dari Marno. Suaranya parau terkalahkan erangan dan isak tangis. Puji selalu ia panjatkan. Ia tak menemukan dirinya. Entah hilang ke mana dan menjadi apa. Tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detak jantung melayangkan pikirannya. Hembusan nafas memelintir otaknya. Bahkan mata yang nyalang dan ambisius redup dalam keremangan senja. Lina ingat bencana yang menimpa negeri. Mungkin sudah layak ia menggantikan jendral. Paling tidak kerjanya lebih cepat dari mereka yang hanya berpangku tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya akan menjadi pembantu bintang lima. Sebentar lagi setelah bencana ini. Paling tidak sudah 67 bencana yang telah saya bantu. Karir saya akan melonjak. Semua orang akan kenal saya sebagi dermawan. Dengan begitu para majikan nantinya akan berpikir seribu kali untuk menggaji saya rendah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak sepakat. Kamu ambil untung dari kejadian yang kuciptakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lina kaget. Matanya dibuka lebar mengawasi. Telinga ia tajamkan. Hidung pun mencari bau datangnya suara. Tangan meraba, mencari bentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku Bencana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Lina semakin cepat. Menoleh kiri kanan. Tak mendapatkan siapa pun. Menghendus tak melewatkan anyir darah. Mungkin darah ini yang bicara, pikirnya. Tapi bagaimana? Mana mulutnya? Di mana otaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai Bencana! Kami sudah sulit untuk menciptakan tata keindahan. Mengapa kau selalu ciptakan kehancuran. Apa salah kami? Mengapa kau benci pada manusia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan selalu membuat kehancuran dan bencana sebagai akibat dari pemanfaatan manusia kepada sesama manusia dan alam. Selalu mengambil keuntungan dari air mata dan darah saudara mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebuah bencana,” diam sejenak, “memang ada penggalangan bantuan atas nama kemanusiaan. Tapi di balik itu demi nama mereka sendiri. Perjamuan makan di hotel berbintang untuk menggalang dana bagi bencana kelaparan. Nyanyian dan tarian untuk setiap bencana. Bahkan penceramah selalu berkoar mencari-cari siapa yang salah. Bukannya membantu tapi mementingkan nama dirinya dikenal orang lain. Apa itu bukan mencari keuntungan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lina semakin bingung. Tak mengerti apa yang diucapkan oleh Bencana. Mengais-ngais segala ingatannya tentang bencana. Seluruh bencana. Apa yang ditimbulkannya. Untung dan rugi? Apa maksudnya? Semakin Lina bertanya pada apa yang ia sendiri tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingat juga, kalau kamu mau bintang lima atau bintang berapa pun akan saya berikan. Akan saya timbulkan banyak bencana lagi. Dengan begitu kau akan semakin dikenal orang. Dermawan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Saya tidak mau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kau mesti berubah pikiran. Lakukanlah. Itu sudah menjadi cita-citamu. Menjadi pembantu bintang lima. Sampai majikan akan kalah kaya dengan pembantunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kejauhan, Lina seperti melihat dirinya dan Rudi, pacarnya, yang ia tinggalkan demi mencapai cita-citanya. Kekasih yang menyayanginya dengan tulus. Tanpa pamrih. Ia meninggalkannya tanpa alasan yang kurang masuk akal. Demi menjadi pembantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya, Mas, saya harus mewujudkan cita-cita,” Lina melihat dirinya di kejauhan berucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Tidak! Bukankah setiap orang akan menjadi pembantu. Sekretaris jadi pembantu direktur. Presiden pun akan jadi pembantu negara. Bahkan seluruh mandor dan majikan akan menjadi pembantu untuk kepentingannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi saya harus punya predikat bintang lima sampai orang akan segan. Menundukkan kepala setiap berpapasan dengan saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lina terheran-hern bisa melihat dirinya dan Rudi bercakap-cakap di kejauhan. Bagaimana mungkin dirinya ada dua. Siapa sebenarnya orang yang mirip dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak Lina terdiam. Ia kembali kepada lautan mayat. Hamparan kepedihan. Serakan darah. Pikiran yang tertumpah nyaris sia-sia ditelan bencana. Menyanjung segala yang tersisa walau terisak kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Non, kita sudah sampai Sleman. Hampir sampai rumah,” seperti suara Marno mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lina tergeragap. Pancaran mata yang tak bertuju. Degup jantung tak normal. Cepat. Tersengal-sengal nafas dalam guncangan diri. Pakaiannya basah dengan segala peluh. Asam. Parfum yang sempat ia cipratkan tadi pagi terbuai dalam setiap angin yang menyapa tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak butuh bintang lima,” gumam Lina pelan, benar-benar lirih. Mewanti-wanti dirinya agar tak terjebak dalam kubangan kesalahan yang kerap dilakukan atas nama kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sudah mengalahkan siang. Matahari sudah lelah dengan panasnya. Meredup di ufuk barat. Sore hari. Sayu-sayu sinar menentramkan. Lina terbangun dari tidurnya dan langsung menemui Marno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marno, jika nanti ada wartawan tanya, jangan dijawab. Jika ada kamera merekam cepat menghindar. Jangan sampai apa yang kita berikan dan lakukan ini tersiar bangga di masyarakat,” ucap Lina pada Marno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…bukankah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” potong Lina, “kita di sana nanti untuk membantu bukan mencari keuntungan. Lupakan cita-cita saya untuk menjadi pembantu bintang lima. Aku tak perlu lagi. Saya pun sudah berniat berhenti mewujudkan cita-cita itu. Sekarang saya hanya ingin membantu saudara tanpa pamrih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno makin tak paham yang diucapkan majikan kecil. Sebelumnya Marno malah disuruh mengekspose besar-besaran kegiatan kemanusiaan kepada wartawan. Membicarakan kepada seluruh korban tentang sumbangan yang diberikan. Bahkan kegiatan-kegiatan atas nama kemanusiaan harus dirinci setepat-tepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bencana, saya tidak akan membiarkan pengambilan untung atas nama kemanusiaan. Saya akan memulai dari diri saya, kawan saya, tetangga-tetangga. Kami akan tulus menolong mereka, saudara-saudara yang kau celakai. Yang kau jadikan mereka melarat. Berenang dalam kolam air mata. Tangis yang sudah bercampur darah, air mata, peluh, dan nanah,” Lina berucap pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Truk sudah menunggu. Sore yang telah direncanakan membuat tergesa. Lina masih berada di rumah tapi bencana mulai anyir tercium. Erangannya makin keras. Wujudnya makin jelas di mata Lina. Tangannya pun mulai merasakan kehangatan suhu bentuknya. Kasar. Lina meronta keras. Mengurungkan langkahnya menuju truk. Segera ia mendekati Parjo, ayahnya, yang jatuh tersungkur. Setiap langkah ia gunakan untuk memapah ayahnya yang sudah lemas. Belum sempat keluar rumah, Lina sudah tertimpa atap rumah yang ambruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semilir angin tak menadakan apapun. Keriangan asap mulai berpesta di antara rumah. Melalap semua. Marno hanya terpaku menyaksikan dari kejauhan. Tak ada sempat langkah untuk menolong. Marno hanya mendengar jerit tangis majikan-majikannya. Marno tak bisa berhenti memikirkan. Baru akan mewujudkan ketulusan niat untuk membantu saudara jauh yang tertimpa bencana. Namun bencana sudah memeluk erat Lina dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno semakin cemas. Tak memiliki majikan tentu tak akan memiliki pekerjaan. Tentu juga tak memiliki penghasilan. Marno terus memikirkan cara menghidupi keluarga tanpa majikan. Tak juga ditemukan cara. Marno berlari ke tengah bara api dengan solar berada di tangan. Menyusul majikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamongan, 6 Juni 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4789682494913817153-2100862563572105189?l=rodhi-murtadho.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/feeds/2100862563572105189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4789682494913817153&amp;postID=2100862563572105189' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/2100862563572105189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/2100862563572105189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/2010/11/pembantu-bintang-lima.html' title='Pembantu Bintang Lima'/><author><name>rodhi.murtadho@gmail.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01896127493455867075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-48ATUiOYUdc/ToBLbSIPmJI/AAAAAAAAABQ/H_11afs_XdI/s220/KUMALA%2BJPG..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4789682494913817153.post-28727520167771209</id><published>2010-11-13T03:42:00.003+07:00</published><updated>2010-11-13T03:42:38.345+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='A Rodhi Murtadho'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Short Story'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Way of View'/><title type='text'>Matra Hijau</title><content type='html'>By A. Rodhi Murtadho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matra hijau. Kerlap-kerlip lampu menggantikan lenggang daun pepohonan. Udara sejuk dan hawa segar terisolasi asap knalpot dan luapan pabrik. Muntahan tai tak teruruk. Buangan-buangan yang tak terurus: plastik, kertas, daun, bangkai tikus, bangkai kucing, orok busuk, bahkan mayat manusia. Benak selalu tak mengerti kewajaran. Memaafkan segala gerak tangan dan pemikiran. Meski salah. Aksi dan reaksi terjadi begitu cepat. Lelah. Hanya bisa meruncingkan keinginan tidur dalam lingkungan apek. Kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman firdaus. Bukan impian kalau kita mau. Hamparan hijau. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tai-tai yang menyuburkan. Hembusan nafas cepat tergantikan angin segar. Bahkan kentut pun tak bau. Aliran air seni cepat bereaksi dan terurai biar seribu ompol yang menggenangi. Kicauan burung mengenakkan lelap dalam kenyamanan. Bahkan bau tanah pun melegakan nafas apalagi sesudah hujan. Danau susu pun menggenang selagi sapi tak dimusnahkan secara masal. Desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai desa kau sungguh antik. Tapi kasihan benar kau tak ada teknologi canggih. Lihat diriku penuh dengan pabrik-pabrik, mesin kelas tinggi, jalan yang mulus, bangunan yang megah dan indah. Berjalan pun sudah pakai motor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan kau sombong kota. Memang aku kumel dengan banyak tanaman liar. Berjalan dengan terengah-engah. Tapi lihatlah dirimu. Kotor penuh debu. Asap tersembul di mana-mana. Suara meraung-raung memekakkan telinga. Banyak orang idiot lahir gara-gara radiasimu. Mengenaskan. Apa itu yang mau kau banggakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan mereka terdengar jelas oleh Kasmo yang berdiri di samping mereka. Semakin bingung ia dibuatnya. Tak hanya itu, ia hanya bisa melongo dengan ulah Desa dan Kota. Bingung akan berbicara apa. Memihak siapa. Paling tidak ada sesuatu yang harus ia utarakan. Tanpa memihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…tuan-tuan, mengapa mesti bertengkar…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam kau,” potong mereka berucap bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasmo semakin tak berkutik dibuat. Pikirannya mulai kelu untuk berpikir. Hanya desahan nafas dan pompaan jantung yang ada. Bukti ia masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kota, apa kau tidak malu dengan gunung-gunung yang kau punya. Gunung sampah, gunung pengangguran, gunung pelacuran, gunung kejahatan. Saya pikir kamu harus punya malu dengan yang ada padamu. Memang kau canggih, namun dampak yang kau timbulkan memalukan negeri ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisanya kau berkata itu. Negeri ini terkenal karena kota. Bukan karena desa yang usang seperti kau. Orang pandai, jenius lahir di sini. Sementara kau, di sana yang lahir paling tikus comberan, orang-orang tak kenal pendidikan. Maklum susah majunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasmo mendadak teringat Maryati, mantan istrinya yang sekarang hidup di desa. Istrinya memang banyak mengeluh dengan kehidupan kota. Lebih memilih hidup di desa. Namun Kasmo memaksanya untuk hidup di kota. Tantu saja percecokan rumah tangga terjadi. Maryati yang benar-benar sangat ingin hidup di desa dan tidak bisa hidup di kota. Sedangkan Kasmo yang harus hidup di kota dan tidak bisa hidup di desa. Keduanya saling mempertahankan pendirian. Sampai pendirian itu benar-benar berdiri sendiri. Berjalan di tempat yang memang terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu kita bercerai saja, Mas. Daripada kita tidak bisa bersatu lagi. Aku tidak bisa menuruti keinginanmu. Dan kamu sendiri tak paham dengan keinginanku. Jelas ini sudah berbeda jalan. Bersimpangan. Kita bercerai saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, kita bercerai. Kau bisa pulang ke desa yang kau banggakan itu. Aku akan tetap di sini dengan kebanggan kota yang sudah termiliki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerai memang sakral. Tak terhindarkan dari perpisahan. Tentu saja emosi yang ada mengkomando semuanya. Tidak bisa dipungkiri. Kecewa datang tanpa diundang. Menyesal jelas menghantui. Sudah barang tentu keinginan menyatu masih ada. Keinginan mereka memiliki anak belum bisa mereka wujudkan. Memang usia pernikahan mereka baru mencapai enam bulan. Tapi tanda-tanda datang seorang anak belum ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Kasmo! Kau melamun saja. Tak punya pekerjaan lain apa? Mengapa kau memikirkan Desa? Sudah jelas kalau Desa itu bobrok, tak mengerti kemajuan. Apa mau kau bergaul dengan idiot. Enakan bersamaku. Hidup gemerlapan. Tak ada susah. Hiburan selalu ada di setiap simpang jalan. Kalau ingin apapun tinggal memesan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasmo, jangan dengarkan Kota. Kau tahu sendiri kalau kau bersamanya banyak ruginya. Setiap hari kau mencium bau yang menusuk hidung. Perih. Menampar telinga dengan dentuman suara bising teknologi canggih yang dibanggakannya. Mana ada enaknya. Apalagi kemarin kau kehilangan istrimu gara-gara kau mempertahankan mau bersamanya. Rugi Kasmo, jelas rugi. Pasti kecewa, yakinlah Kasmo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maryati memang istri yang tak begitu cantik. Namun manis dan tak membosankan untuk dipandang. Setiap senyum dengan gigi miji timun menentramkan hati. Kesetiaan tak diragukan lagi. Apalagi dia pandai mengaji dan sangat menjunjung tata krama. Bersikap baik kepada setiap orang. Tak heran kalau Kasmo sering dicela dan dicaci orang gara-gara perceraiannya dengan Maryati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasmo buat apa istri, kau tahu kan? Di sini kau tinggal membelinya. Banyak perempuan cantik bahkan melebihi Maryati. Buat apa perempuan desa yang hanya merepotkanmu dengan ceramahnya setiap hari. Mengomel dengan dalih agama. Buat apa, itu lebih pekak rasanya daripada suara mesin pabrik. Atau mesin sepeda motor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…Tuan-tuan, Kota dan Desa. Lantas saya harus bagaimana? Kalian tahu sendiri kalau sejak kecil saya hidup di kota. Tidak pernah sama sekali hidup di desa. Bahkan mungkin saya takut hidup di desa yang kesemuanya menggantungkan pada alam. Saya takut nanti kalau…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasmo…Kasmo. Kau ini sungguh lucu. Tidak pernah hidup di desa tapi sudah mengatakan kalau desa itu tempat yang tak layak huni. Hanya menggantungkan pada hutan. Jelas salah Kasmo. Desa sekarang sudah maju. Berpendidikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu bohong Kasmo. Jelas sekali kalau desa yang tampak di depanmu itu. Kau lihat sendiri tampangnya yang amburadul tak karuan hancurnya. Usang. Tak terawat. Pendidikan memang berpendidikan tapi masih saja ndesit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasmo bingung. Bagaimana bisa Desa dan Kota saling mengumpat. Ia memanggil Desa dan Kota untuk membantunya. Memberi pertimbangan. Bukan saling mengadu otak. Masalah desa dan kota hanya ada dalam pikiran mereka. Kasmo hanya terdiam. Seakan membiarkan Desa dan Kota sekehendak hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasmo, ingat Maryati…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergeragap Kasmo dengan pengingatan yang dilakukan Desa kepadanya. Kasmo baru saja dikabari kalau Maryati hamil. Sudah tiga bulan. Sementara perceraian Kasmo dengan Maryati baru dua bulan. Tentu tak dapat diragukan kalau jabang bayi di rahim Maryati berasal dari benih Kasmo. Keinginan Kasmo kembali kepada Maryati dan jabang bayi yang dikandungnya semakin kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, kalau kita punya anak nanti, Mas minta laki-laki apa perempuan?” tanya Maryati di sela-sela malam pengantin barunya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagiku sama saja dik. Di kota tak ada perbedaan laki-laki dan perempuan. Sudah ada kesetaraan. Tak tahu kalau di desa. Mungkin masih ada perbedaan perlakuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam yang remang menggerayangi setiap sela yang tak tersentuh. Kalbu yang tenang tergetar halus mengingkari. Pujian hati selalu berdendang tak bertuan. Hanya syukur yang ada dalam setiap desahan nafas panas berbirahi. Pasang surut anggukan leher memuncakkan hasrat. Desiran angin tak mengganggu. Pucuk-pucuk baju mulai tercincang dengan halus. Menampakkan kegetiran dan ingin menyentuh. Lamat-lamat gerakan lidah tak lagi tertahan oleh bibir yang terkatup. Menyapu bersih segala bulu yang ada. Menimbulkan kegalauan yang memuncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pucuk-pucuk lidah bertuan makin tak terkendali. Tangan-tangan mulai kencang memegang. Semuanya menegang. Hanya kecupan yang semakin buat bimbang. Bersilat, mengeluarkan jurus yang tak bisa ditebak arah dan gerakannya. Semakin sempoyongan memenuhi ancaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidak-bidak senjata terus menghujam di antara reruntuhan gedung yang sengaja dirobohkan demi perbaikan tata ruang kota. Kelu kesah memuncratkan kebimbangan yang lahir dari bising dan nyala terang lampu. Merayap di lubang-lubang udara berasap penuh dengan debu. Menyesakkan. Gairah pun tak memudar dan ingin mengulang. Bersama menatap rembulan yang hanya pasrah menunggu suasana haru dan lemas. Tak bertenaga. Terpuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasmo,” Desa mengagetkan, “mengapa kau hanya diam? Paling tidak ikutlah bersamaku. Ke desa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Kasmo, jangan kau turuti Desa, jangan kau terjebak. Kau akan merasa sangat terasing dengan kehidupan yang tak kau ketahui. Bagaimana mungkin kau akan tinggal di sana dengan Maryati. Berarti kau yang kalah Kasmo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasmo semakin tak mengerti dengan apa yang dihadapinya. Ia kembali teringat dengan Maryati. Bagaimana ia bertemu mata dengannya di kota. Saat Maryati bekerja di pabrik rokok ternama. Ia sebenarnya tak tahu dengan matra hijau yang digembar-gemborkan pejabat. Yang ia tahu memang desa lebih hijau dari kota. Bagaimana pun kota dipoles dengan warna hijau tetap saja keadaan tetap dominan pada gedung bertingkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia teringat kalau Maryati pernah mengatakan kalau desa yang dihuninya sekarang sedang dibangun. Namun bagaimanapun dibangun, kepercayaan membuat desa tak terjaga dan mudah pudar. Paling hanya bertahan sampai beberapa bulan terus hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan-tuan, saya mohon maaf. Apa kalian bisa pergi dari hadapanku sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya siapa kau Kasmo. Berani mengusir kami. Ibumu dulu berasal dariku. Dari desa. Memang ayahmu dari kota. Tapi kau tidak bisa seenaknya mengusir kami begitu saja. Kau saja yang pergi. Tak mungkin kau dapat tempat selain tempat salah satu dari kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kalian memusingkanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa dan Kota semakin marah dengan perkataan Kasmo. Merasa tersinggung dan sangat dipenuhi dengan emosi. Nyalang mata tak terkendalikan. Memancar kemerahan hendak menyundang. Kepalan tangan semakin tergenggam erat. Kuda-kuda sudah dipasang dengan rapi. Kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sialan kau Kasmo!” Desa begitu marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau akan kuhajar Kasmo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu, tunggu. Kalian sabar dulu ya. Saya hargai kalian telah membantu saya. Namun bagaimanapun keputusan akhir ada di tangan saya kan,” Kasmo mencoba meredakan emosi Desa dan Kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasmo terus melawan. Keinginannya untuk menjumpai Maryati sudah menjadi tekad bulat yang ketat. Namun kemarahan Desa dan Kota tak bisa dibendung lagi. Pukulan bertubi-tubi jatuh telak di wajah Kasmo. Membuatnya tersungkur tanpa bisa membalas. Tendangan-tendangan yang diarahkan ke wajah dan tubuhnya tak bisa dihindari. Kasmo dikeroyok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 22 Mei 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4789682494913817153-28727520167771209?l=rodhi-murtadho.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/feeds/28727520167771209/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4789682494913817153&amp;postID=28727520167771209' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/28727520167771209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/28727520167771209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/2010/11/matra-hijau_13.html' title='Matra Hijau'/><author><name>rodhi.murtadho@gmail.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01896127493455867075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-48ATUiOYUdc/ToBLbSIPmJI/AAAAAAAAABQ/H_11afs_XdI/s220/KUMALA%2BJPG..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4789682494913817153.post-6527525787282511950</id><published>2010-11-13T03:24:00.000+07:00</published><updated>2010-11-13T03:24:45.733+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='A Rodhi Murtadho'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Short Story'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Way of View'/><title type='text'>Kembang Sepatu di Antara Sepatu</title><content type='html'>By A. Rodhi Murtadho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatu berbau busuk. Kembang sepatu berwarna merah. Pemandangan yang selalu ada di setiap hari Minggu. Di antara teriknya sinar matahari dan angin yang terus mengalir pada kesunyian yang membawa bau busuk sepatu. Tentu saja bau itu menjalar ke mana-mana. Yang pasti ke rumahku. Sebagai tetangga yang berdempetan. Bahkan halamannya juga hampir menjadi satu. Aku yakin tetangga yang berada di seberang sana dalam radius seratus meter masih bisa merasakan kebusukan sepatu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, jangan kau buka pintu dan jendela, &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;aku takut bau busuk sepatu itu akan menjalari rumah kita,” pintaku pada suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi udara segar tidak akan masuk, Dik,” kata Harjo, suamiku yang berperawakan kalem dan sangat sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu lebih baik daripada seluruh isi rumah ini akan menjadi sesak dan busuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sebenarnya tidak tahan. Lebih tepatnya, aku sangat tidak tahan. Bagaimana mungkin Kumajas, tetanggaku itu, tahan dengan bau busuk yang menyengat seperti itu. Pintu dan jendela rumahnya terbuka. Sepatu yang dijemur di atas pohon kembang sepatu berada tepat di depan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumajas memang seorang pengusaha sukses. Rumah dibeli sendiri dari hasil kerjanya. Bahkan mobilnya sampai tiga. Dia masih lajang dalam usianya yang hampir 30 tahun. Ketampanannya membuat greget para istri yang berada di perumahan Griya Cemara ini. Namun itu hanya berlangsung seminggu sejak kedatangannya. Sejak dia menjemur sepatu di halaman rumahnya, jangankan para istri, semua tetangga menjauhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sabtu, pekan terakhir bulan ketiga sejak kedatangannya, kulihat mobil Kumajas pulang pagi, sekitar pukul 10.00 WIB, tak seperti biasanya. Atau dia sakit. Tapi apa yang kulihat sungguh menyesakkan dada. Dia berjalan ke halaman rumahnya sambil menenteng sepatu. Menjemurnya. Kulihat rumah tetangga yang lain langsung tertutup rapat baik jendela, pintu, maupun seluruh lubang udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah tidak tahan lagi. Biasanya dia menjemur sepatu busuknya hanya pada hari Minggu. Dan biasanya suamiku, Mas Harjo, selalu menghiburku meskipun aku tahu Mas Harjo juga sangat marah. Sebagai seorang istri, hari Minggu biasanya kugunakan waktu untuk menservis suami menjadi terganggu dengan ulah Kumajas menjemur sepatu busuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, Mas Kumajas …” kuketok rumahnya, kupanggil sangat keras dan tentu saja sambil menutup hidungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara langkah dari dalam mendekati pintu. Tak begitu tergesa dan terdengar santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, saya sendiri, ada apa Bu Harjo?” kata Kumajas yang kemudian tersenyum manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, ada apa! Sepatu Mas itu lho. Bau! Biasanya hanya hari Minggu menjemurnya. Sekarang masih hari Sabtu kok sudah dijemur!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, mungkin hanya perasaan Ibu saja. Sepatu itu tidak bau kok. Kebetulan sekarang ada waktu, jadi saya menjemurnya. Tidak usah menunggu besok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin kesal dengan perkataan dan sikapnya yang merasa tak punya salah dan dosa atas perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Mas mau bukti. Itu lihat! semua tetangga menutup pintu dan jendelanya agar tidak mati sesak napas karena mencium bau busuk sepatu Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya yakinkan kalau sepatu saya tidak bau, Bu. Oke! Ibu silahkan duduk dulu. Saya ambil sepatunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk di ruang tamu sementara Kumajas berlari mengambil sepatu yang dijemurnya. Dia menenteng sepatu tanpa menutup hidung. Sempat terlintas di pikiran, kalau di dalam rumahnya, aku tidak mencium bau busuk sepatu itu. Padahal di rumahku dan rumah tetangga yang lain baunya sungguh menyengat. Aku tidak lagi menutup hidung. Mungkin lupa: terpesona dengan suasana dan harum ruangan rumah Kumajas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini Bu, kalau kurang percaya. Kalau bau tentu Ibu akan menutup hidung,” kata kumajas sambil menunjukkan dan mendekatkan sepatunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan keanehan dan langsung berlagak untuk menutup hidung. Namun perlahan kubuka karena memang sepatu itu tidak bau seperti yang selama ini tercium dari rumahku dan dari rumah-rumah tetangga yang lain. Aku malu. Menundukkan muka dan entah panas dari mana. Wajahku terasa sangat panas dan memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, Bu Harjo, ada apa Bu? Wajah Ibu kok merah. Apa sepatu ini bau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat sepatu yang sama yang pernah kuberikan pada Kumajas. Sepatu yang kutulisi namaku di bagian alasnya, ANA, yang kurencanakan sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-27. Namun menjadi sepatu tanda perpisahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm ..e .. tidak,” pelan aku menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung mengingsutkan badan. Berlari menuju pintu tapi tanganku terasa tersangkut. Kulihat tangan Kumajas sudah erat memegang tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan yang sudah lama menghilang, kembali lagi. Kumajas, mantan tunanganku, yang pernah kupuja beberapa tahun lalu harus kutinggalkan. Lebih tepatnya tiga tahun lalu sebelum pernikahanku dengan Harjo. Kumajas yang diam-diam mempunyai perempuan pujaan lain selain aku. Satu hal yang tak pernah kumengerti. Padahal kami telah merencanakan pernikahan setelah ulang tahunnya yang ke-27. Sebagai seorang perempuan, aku merasa sangat tidak dihargai. Tanpa pikir panjang, aku memutuskan pertunangan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu, aku sangat merindukanmu, An?” didekapnya aku erat-erat dalam tubuh bidangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa aku tak kuasa melepas dekapannya. Malah tanganku pun melingkar di tubuhnya. Erat. Kegairahan pun mulai muncul. Biarpun aku melakukannya dengan Mas Harjo tiga kali seminggu. Namun aku tak bisa membendung gairah yang muncul ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi di luar, sepi menelan-mendesak. Lurus kaku pohonan. Tak bergerak. Sampai ke puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“An, kita lakukan seperti dulu. Seperti biasanya,” kata Kumajas pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mulutmu mencubit di mulutku,” kata kami bersamaan mengalir pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun lunglai di bawah bimbingan birahi. Di samping sepatu. Kerinduan demi kerinduan terus terobati dalam dekapan dan cumbuan. Cucuran keringat pun tak sengaja menetes ke dalam sepatu. Panas nafas kami menghembus cepat di atasnya. Di atas sepatu Kumajas. Berguling ke sana kemari juga di atas sepatu Kumajas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari, seperti biasa, para istri yang sedang menunggu suaminya pulang bergerombol ngobrol tak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, besok Kumajas akan menjemur sepatu atau tidak?” tanya Bu Agus kepada para istri, membuka obrolan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paling, tidak. Soalnya aku tadi sudah merasakan kebusukan sepatunya,” ungkap Bu Tommy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan saja tidak. Kalau menjemur lagi, wah bisa mati sesak kita,” Bu Andrew berkata sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan mukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kulihat Ibu Harjo tadi melabrak Kumajas, ya. Kulihat Kumajas langsung mengambil sepatunya,” Bu Tommy tersenyum memandangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celaka, ibu-ibu ini tahu kalau aku mendatangi Kumajas dan jangan-jangan mereka juga melihat apa saja yang kulakukan bersama Kumajas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Bu. Aku kan tetangganya yang paling dekat, jadi baunya membuat pusing kepala. Mau pecah rasanya,” kataku mengiyakan untuk menghindari tudingan yang macam-macam dari para istri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya lha, kok ada sepatu yang baunya seperti itu,” kata Bu Agus menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ada pepatah, rumput tetangga lebih hijau dari rumput di halaman rumah kita enaknya diganti saja menjadi bau tetangga lebih busuk dari bau kita,” kata Ibu Tommy melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau lebih tepatnya, sepatu busuk tetangga lebih busuk dari tai kita,” kata Ibu Agus menambahkan yang kemudian disambut dengan tawa para istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita labrak sama-sama. Gabungan para istri. Percuma dong kalau dulu kita diperjuangkan Kartini sementara sekarang hanya bisa tinggal diam. Mangku tangan. Menerima bau busuk sepatu Kumajas sialan itu,” kata Bu Andrew memprovokatori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Bu. Mas Harjo sudah datang. Saya permisi dulu,” kataku seraya melangkahkan kaki menuju rumah untuk menyambut suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lega rasanya kalau aku bisa cepat-cepat meninggalkan tempat ngobrol para istri. Karena aku sendiri yakin kelihaian mereka bisa membuatku terjebak. Mengatakan apa saja yang terjadi di rumah Kumajas ketika aku mendatanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa kusambut Mas Harjo dengan hangat. Kulayani seperti biasa agar tidak timbul curiga. Kusiapkan air hangat untuk mandi. Makan malam sampai jadwal malam minggu yang kami buat. Melakukan hubungan intim suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang masih rabun namun suara tetangga sudah memenuhi suasana. Aku mulai terbangun dengan malas. Begitu juga Mas Harjo yang juga ikut terbangun. Kuintip dari jendela. Para tetangga bercengkrama di halaman rumah masing-masing. Keanehan apa yang terjadi? Mungkin obrolan kemarin sore membuat kami beranggapan bahwa Kumajas tidak akan menjemur sepatunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualihkan pandanganku ke halaman Kumajas. Tak kusangka, sepatu Kumajas sudah berada di sana. Namun ada yang aneh diantara sepatu itu. Ada sebuah kembang sepatu yang mekar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekapan Mas Harjo dari belakang membuatku kaget. Kurasakan kasih sayang suamiku yang begitu dalam. Pagi hari yang tak berbau meski Kumajas menjemur sepatu. Para tetangga pun melakukan aktivitas selayaknya sebelum Kumajas datang ke perumahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik, masih pagi,” pelukan dan bisikan Mas Harjo membuat kami kembali ke ranjang dan mengulang kejadian semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari mulai siang. Kulihat jendela dan pintu tetangga terbuka semua. Hanya rumahku yang belum terbuka. Aku mendekati pintu dan membukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, Harjo. Benar kan Kumajas tidak menjemur sepatunya. Bau harum langsung tercium sekarang. Memang sebenarnya lingkungan kita ini bersih dan harum,” kata Bu Agus, yang rumahnya berada di samping kiri rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualihkan pandangan ke halaman Kumajas. Kulihat kembang sepatu yang sudah mekar dari pagi tadi. Kembang sepatu itu semakin mekar. Namun kulihat juga tetap sama. Sepatu Kumajas yang biasanya bau dijemur di sana. Sepatu yang membuat sesak pernapasan hampir satu perumahan. Tapi mengapa sepatu itu kini tidak dirasa bau olehku dan tetangga yang lain? Apakah kembang sepatu itu yang membuatnya tidak bau? Aku pun mulai berpikir kalau sepatu Kumajas memang tidak bau. Mana mungkin ada kembang sepatu yang begitu indah mau mekar di antara sepatu yang busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 24 Maret 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4789682494913817153-6527525787282511950?l=rodhi-murtadho.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/feeds/6527525787282511950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4789682494913817153&amp;postID=6527525787282511950' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/6527525787282511950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/6527525787282511950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/2010/11/kembang-sepatu-di-antara-sepatu.html' title='Kembang Sepatu di Antara Sepatu'/><author><name>rodhi.murtadho@gmail.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01896127493455867075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-48ATUiOYUdc/ToBLbSIPmJI/AAAAAAAAABQ/H_11afs_XdI/s220/KUMALA%2BJPG..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4789682494913817153.post-270804262720668885</id><published>2008-11-05T21:30:00.001+07:00</published><updated>2010-11-13T03:13:56.927+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='A Rodhi Murtadho'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='view of life'/><title type='text'>Pagar Emas</title><content type='html'>A Rodhi Murtadho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagar di depan rumah mulai berkarat. Entah sejak kapan karatan itu mulai menyelimuti besi pagar. Daun yang ada di atasnya selalu saja bergerak. Sejak kapan daun itu berada di sana. Aku tak tahu pasti. Setahun yang lalu, seingatku, belum ada daun yang berada di atas pagar. Selalu saja aku bertanya dalam hati. Daun itukah yang menyebabkan pagar berkarat? Aku semakin bingung dengan pertanyaan yang muncul dalam benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai menyentuh pagar. Megingat kembali pemasangan pagar. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Besi yang berkilat dan terbaluri cat warna hitam. Dan semua itu aku kerjakan sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak sedang apa?” Tanya istriku sambil menggendong Rani, anak kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau menjawab. Apa  yang sebenarnya kulakukan dan kupikirkan saat itu. Tapi aku ingat Rani, anak perempuanku, yang berada dalam gendongannya. Ingat kebutuhan susunya yang akhir bulan ini belum terpenuhi. Paling tidak, akhir bulan ini, aku harus membeli susunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa, hanya menikmati udara segar.” Jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat mimik makin bertanya-tanya pada raut istriku. Ia mengalihkan pandangan pada Rani. Mungkin ia tahu kesedihanku. Seorang suami yang tidak bisa bekerja penuh untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga. Mungkin hanya kebutuhan untuk sehari-hari saja. Untuk makan, bayar air, dan bayar listrik sebagai kewajiban masyarakat kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin tertekan akhir-akhir ini. Kebutuhan keluarga makin bertambah. Gaji yang aku terima tetap. Rani hadir sebagai anugerah sekaligus idaman bagi kami. Aku sebagai kepala keluarga merasa tak mampu dan kadang juga rendah diri. Namun tekad yang aku genggam, bahwa kebutuhan anakku, Rani, mengenai gizinya harus terpenuhi. Namun bagaimana caranya. Aku semakin bingung memikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo masuk pak, mulai dingin di luar. Hari mulai malam soalnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, bu. Sebentar lagi. Kamu saja duluan, nanti aku menyusul.” Elakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah pak, ayo masuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang ada dalam benak istriku. Seakan ia tahu kepedihan yang aku rasakan. Mengerti tentang keadaanku yang mulai tua. Hanya menggantungkan diri pada perusahaan yang hanya menggajiku tetap meski telah bekerja puluhan tahun di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah bu.” Aku mulai menurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang terjadi ketika aku melangkahkan kaki menuju rumah, aku selalu memikirkan pagar yang aku lihat, yang aku sentuh, dan memang karatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan aku bisa menggantinya?” tanyaku lirih pada diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar tangis Rani yang baru saja dibaringkan istriku di ranjang. Suaranya amat keras. Tak seperti biasanya ia menangis begitu keras. Kalau ia ngompol atau lapar suara tangisnya tak sekeras ini. Aku hafal tangisnya. Kami mulai dilanda rasa kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, badan Rani kok panas ya?” kata istriku sambil menyentuh jidat dan tubuh Rani. “Padahal tadi, ketika saya gendong badannya tak sepanas ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apalagi ini. Kecemasanku sebagai kepala rumah tangga semakin meningkat. Aku terus saja merasakannya bahkan mimik mukaku mulai berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa perlu kita bawa Rani ke dokter pak?” Tanya istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimik mukaku makin tak dapat disembunyikan lagi. Istriku mulai menyadari hal itu. Ia pun kelihatan ikut cemas merasakan apa yang aku rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dikompres saja dulu. Mungkin besok suhu panasnya kembali normal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Pak.” Kata istriku yang selama ini menurut kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompres ternyata tak mampu menurunkan panas Rani. Bahkan suara tangsisnya tampak semakin keras. Padahal hari sudah mulai malam. Kami mulai kebingungan dan semakin cemas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, Rani mencret!” kata istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam yang gulita membuat aku semakin merasa khawatir kepada anugerah yang Tuhan berikan kepada kami. Namun aku tak bisa mengelak lagi pada tanggung jawabku sebagai kepala keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istriku, kamu sudah tahu keadaanku, keadaan uang kita. Menurutmu apa yang harus kita lakukan? Tak ada sanak famili di sini. Dan tetangga di sini sangat individual. Apa yang harus kita lakukan pada Rani?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita bawa saja ke dokter pak. Meski kita seminggu atau bahkan sebulan kalau perlu kita puasa demi kesembuhan Rani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu. Kita bawa Rani ke dokter sekarang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya pak. Tapi aku bersihkan dulu kotoran ini.” Sambil menunjuk pada pantat Rani yang memang blepotan dengan mencretnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi istriku lama sekali di kamar mandi. Ia seperti bermain air di dalam kamar mandi. Begitu juga dengan Rani yang tak henti-hentinya menangis dan semakin menggaung suaranya di kamar mandi. Membuat suara tangisnya semakin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa istriku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rani tidak bisa berhenti mencretnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepanikan yang muncul dari tadi bertambah dalam diri ini. Degup jantung mulai cepat. Berdendang tak beraturan. Semakin cepat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho kok berhenti ya pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba kau bawa dia ke kamar tidur, aku panggilkan saja dokternya ke sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai melangkahkan kaki keluar rumah. Sampai di pintu depan kubuka pintu. Istriku berteriak. Detak jantung seperti ada yang menukul. Berdentang. Layaknya gong yang dipukul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak ke sini, cepat!” Teriak istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung saja mempercepat langkah. Kecemasan semakin terasa bahkan terasa akan mencabut nyawa ini. Namun yang kulihat dalam kamar, istriku tersenyum. Hal inilah yang membuatku kaget dan sekaligus heran. Hal ini juga yang memicuku untuk marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, Rani mencret Emas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, pak. Rani mencret emas. Coba bapak lihat sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai melangkah mendekatkan diriku pada mereka. Kulihat pantat Rani yang penuh dengan warna kuning bercahaya memantulkan sinar lampu kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, bu. Lantas apa yang harus kita lakukan. Bagaimana kita harus memeriksakan Rani ke dokter.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak usah pak. Jangan-jangan dokter mendiagnosa dan menyatakan Rani sakit. Kemudian menyuruh Rani harus rawat inap. Terus nanti emas yang dikeluarkan Rani pasti diambil dokter atau suster yang merawatnya dan membaginya dengan teman-temanya. Kita bagaimana? Kita harus membayar ongkos rumah sakit terus kita juga tidak kebagian emas yang dikeluarkan Rani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga apa yang dikatakan istriku. Hal inilah yang membuatku untuk sependapat dengannya. Kebutuhan keluarga yang makin hari makin naik seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas apa yang akan kita lakukan dengan emas yang dikeluarkan Rani? Apa harus kita jual? Jual kemana? orang pasti mencurigai kita.” Kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ke tukang emas yang ada di pasar. Aku pernah melihat mereka membeli emas berupa anting walau hanya sebelah. Mereka pasti mau kalau membeli emas yang dikeluarkan Rani, pak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emas yang dikeluarkan Rani akhirnya kami jual ke penjual emas yang ada di pasar. Walau membeli dengan harga separuh dari harga emas pasaran, kami merelakan begitu saja. Yang ada dalam pikiran kami, emas itu tidak kami cari hanya menunggu dari pantat Rani. Yang tentu saja tanpa susah payah mendapatkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi keluarga semakin membaik dari hari ke hari. Kewajiban sebagai masyarakat kota terpenuhi dengan baik. Susu Rani juga tercukupi dengan baik dan tidak telat. Semua dihasilkan dari mencret Rani. Aku mulai melirik pagar yang sebulan lalu aku lihat dan memang berkarat di bawah daun mangga. Ada pemandangan ganjil di sana. Daun yang berada di atasnya ternyata hilang. Entah terbang ke mana? Atau jatuh di mana? Di bawah pohon itu tidak ada satu pun daun yang gugur. Aku semakin bingung lagi ketika aku mendekatkan diriku ke pagar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemana juga karatannya?” tanyaku lirih dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai menyentuh pagar yang aku yakini memang berkarat. Sekarang tidak lagi berkarat. Kemana lunturnya karatan itu? Sementara di bawah juga bersih. Tak ada bekas karatan yang jatuh. Aku mulai bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak sedang apa?” Istriku memanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana aku mengutarakan keganjilan yang aku dapatkan ini. Sementara sebulan lalu saja aku tidak mengutarakan kalau ada daun di atas pagar dan pagarnya berkarat. Aku tidak bisa menyembunyikan kegelisahan dalam hatiku. Mimik muka yang terpasang juga mudah sekali dianalisa oleh istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bu.” Jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok kelihatannya bingung, ada apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore yang semakin dingin. Angin yang berhembus juga semakin tak kenal kompromi. Walau begitu tak ada daun mangga yang jatuh satu pun. Aku menjadi semakin bingung. Pagar yang berwarna kusam pun mulai mengkilat lagi diterpa angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara tangis Rani yang semakin keras. Biasanya dia akan mencret emas. Dan memang itulah yang kami tunggu. Kami segera berlari ke dalam kamar dimana Rani dibaringkan. Dan seperti yang kami sangka. Segumpal emas yang bekilau ada di sana. Tepat di bawah pantatnya. Namun yang membuat kami terheran. Mengapa suhu badannya tak kunjung turun. Apa ini sebagai akibat Rani mencret emas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat kau simpan bu, besok saja kita jual ke pasar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, pak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku mulai mengambil segumpal emas yang ada di pantat Rani. Menyimpan dengan baik di tas plastik warna hitam. ia nampak begitu gembira dengan apa yang ia dapat kali ini. Segumpal emas, mungkin setengah kilo. Tak seperti biasanya mungkin hanya sekitar satu ons saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita bisa kaya pak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, bu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita bisa ganti rumah, dan segala macam perabot.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, bu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi pada istriku. Memang dia adalah seorang istri. Seorang prempuan yang biasanya memang butuh kemanjaan dari harta yang melimpah. Kini ia dapat dari Rani, anak kami. Senyum dan tawa yang menghias bibir kami sebulan menjadi kelu ketika Rani menghentikan tangisnya mendadak setelah istriku mengambil segumpal emas yang ada di pantatnya. Mendadak dan sangat mendadak sekali. Dan itulah yang membuat bibir kami yang sebelumnya penuh dengan senyum dan tawa manis sekarang jadi kelu dan beku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 20 Januari 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4789682494913817153-270804262720668885?l=rodhi-murtadho.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/feeds/270804262720668885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4789682494913817153&amp;postID=270804262720668885' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/270804262720668885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/270804262720668885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/2008/11/pagar-emas.html' title='Pagar Emas'/><author><name>rodhi.murtadho@gmail.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01896127493455867075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-48ATUiOYUdc/ToBLbSIPmJI/AAAAAAAAABQ/H_11afs_XdI/s220/KUMALA%2BJPG..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4789682494913817153.post-2918010967593487840</id><published>2008-08-19T12:59:00.002+07:00</published><updated>2010-11-13T03:12:12.291+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='A Rodhi Murtadho'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Way of View'/><title type='text'>Perempuankah Aku</title><content type='html'>By A. Rodhi Murtadho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuankah aku? Sementara aku sendiri berpikir, aku bukan perempuan. Mungkin aku seharusnya dilahirkan sebagai laki-laki. Namun alat kelamin laki-laki yang seharusnya kumiliki tertinggal di rahim ibu saat melahirkanku. Perutku tergores pisau bidan saat persalinan ibu. Membentuk tubuh bagian bawah seperi perempuan. Sehingga aku diberi nama perempuan, dirawat dan dibesarkan layaknya anak perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erlinda Putri. Nama perempuan yang seharusnya kumiliki. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Namun ketika besar, nama itu berubah menjadi Dada Putra. Tak bisa kusalahkan mereka yang mengganti nama dan menyebutnya demikian. Memang dada yang seharusnya tumbuh, jika aku perempuan, tak juga tumbuh. Hanya rambut panjang yang menggambarkan aku perempuan. Memang aneh, tubuh yang kumiliki rata. Tak seperti perempuan seusiaku. Hampir dua puluh tahun umurku. Dada dan pantat seharusnya tumbuh menonjol dan memperlihatkan aku perempuan, tak juga tampak. Seperti laki-laki badanku tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ke mana Dada Putra?” tanya Gugun, teman kuliah satu jurusan tetapi berbeda kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ke kampus,” jawabku lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari selasa, tak pernah kulewatkan sapaan Gugun sejak dua tahun silam setiap kali aku berangkat ke kampus. Sapaan dengan pertanyaan yang sama. Seperti dipersiapkan. Di depan kosnya yang berada di depan kampus, duduk sendiri menghadap jalan. Kadang ada temannya yang menemani. Namun lebih sering terlihat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang agak jauh membuatku harus naik angkutan kota untuk sampai di kampus. Angkutan yang tak bisa mengantar sampai ke dalam lingkungan kampus membuatku harus berjalan. Sekitar seratus meter. Melewati banyak warung dan rumah-rumah. Termasuk kos Gugun. Itu sebabnya Gugun seperti selalu memiliki kesempatan untuk menyapaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang lawakan dari teman-temannya mencibir tubuhku. Namun terdengar secepat kilat Gugun menghentikan mereka. Terlihat pelan-pelan mereka. Saling tertawa. Gugun hanya melayangkan sapaan dan senyum seramah-ramahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk tubuh yang aneh membuat aku minder di hadapan teman-teman. Perempuan sebagai status dan dandanan. Namun laki-laki yang menyelimuti tubuh dan jiwa. Aku semakin aneh dengan namaku. Dada Putra. Seolah aku berubah menjadi laki-laki. Rambut makin hari makin menyusut pendek. Tumbuh kumis di atas bibir. Aku semakin bertingkah menjadi laki-laki. Itu sebabnya teman-teman perempuan enggan mengajakku pergi bersama ke kamar mandi. Kalaupun bertemu di kamar mandi, mereka langsung mengingsutkan badan menghindar dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin berpikir kalau aku ini laki-laki. Aku harus mencari kelaminku yang tertinggal di rahim ibu. Tapi entah bagaimana caranya. Aku jarang sekali bertemu ibu. Aku berangkat kuliah, ibu baru pulang. Kerja katanya. Dan ketika sore hari sepulang dari kampus, ibu pergi. Kerja katanya. Kapan aku bisa merogoh rahim ibu untuk mencari alat kelaminku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin bingung aku dengan keadaan yang terus berubah. Kadang kulihat tubuh di cermin, sangat mirip laki-laki. Hanya saja tak ada alat kelamin laki-laki sebagai kesempurnaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, ngelamun ya?” sontak suara Gugun mengagetkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak…nggak!” spontan aku menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengobrol. Tak jelas arahnya. Mendiskusikan masalah yang kadang sudah kami bahas. Seperti memiliki banyak waktu untuk bertukar pikiran. Menumpahkan masalah walaupun kami sesibuk apapun. Tugas kuliah, jadwal kuliah, hobi, keluarga, rencana masa depan, atau hal-hal yang pribadi. Namun obrolan menjelang sore menjadi obrolan yang sangat baru dan mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku suka dan sayang kamu, Da.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spontan aku kaget setengah mati. Layaknya badai sunami dicampur gempa tanpa penerangan dari matahari karena terjadi gerhana matahari total. Longsor seketika mental yang aku punya. Banjir tubuh dengan keringat yang mengucur perlahan. Panas dan terbakar wajah. Memerah. Jantung semakin berpacu cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau menghina aku ya, Gun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan. Memang sejak lama aku menyimpan rasa ini dan menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakannya padamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin besar badai yang datang. Semakin besar kekuatan gempa. Semakin gelap suasana. Semakin panas wajah. Semakin basah baju oleh keringat. Mati rasa tubuh. Nafas pun sudah tak terasa alirannya. Hanya otak yang berpikir keheranan dan syaraf mata yang harus berkedip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak tahu, Gun. Rasanya tak pantas. Kau laki-laki. Sementara keperempuananku hanya status. Orang-orang memanggilku Dada Putra. Pasti mereka menilaiku sebagai laki-laki. Aku juga berpikir kalau aku bukan perempuan. Itu sebabnya aku tak tahu bagaimana aku bersikap dan menjadi perempuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau perempuan bagiku, Linda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan. Aku bukan perempuan. Aku tak tahu bagaimana menjadi perempuan. Mengasihi dan menyayangi layaknya perempuan. Kau tahu sendiri, mengapa orang-orang mengganti dan memanggil namaku dengan Dada Putra. Karena aku memang bukan perempuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugun. Tertunduk tersipu. Terdiam dengan raut muka yang menegang. Tak ada sunggingan senyum di wajahnya seperti biasa yang kulihat. Tampak berpikir dan lesu. Aku pun ikut terdiam. Hening suasana. Mengubah keriangan obrolan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Linda kau memang perempuan. Rambutmu panjang. Wajahmu mulus dan cantik. Suaramu nyaring menandakan perempuan. Ssetiap kali kulihat kau ke kamar mandi, kau pergi ke kamar mandi perempuan. Mengapa mesti kau ingkari kalau kau perempuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu hanya status, Gun. Perempuan. Hanya menjalankan statusku yang tertulis di akta kelahiranku. Sudah kubilang, aku tak layak menjadi perempuan. Kumisku akan tumbuh. Rambutku sebentar lagi akan pendek. Sementara dadaku tak seperti perempuan kebanyakan. Aku sama seperti kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Persetan dengan statusmu yang kau ragukan. Persetan dengan ucapanmu bahwa kau bukan perempuan. Namun, kau tetap perempuan bagiku. Kau layak sebagai perempuan. Penerus Kartini, sebagai perempuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu yang dipikirkan Gugun. Mungkin semua laki-laki yang sedang kasmaran akan bersikap demikian. Selalu menerima kekurangan orang yang disukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Gun. Mungkin yang dimaksud Kartini dengan perempuan sejajar dengan laki-laki itu aku. Perempuan yang tak lagi menjadi perempuan. Aku tumbuh menjadi laki-laki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari semakin sore. Kami mengakhiri pembicaraan. Aku pulang ke rumah. Begitu juga dengan Gugun. Mungkin pulang ke kos. Aku tak tahu. Gugun mengambil jalan yang tak searah denganku untuk keluar kampus. Tak lagi berjalan bersama seperti biasa. Mengobrol sampai di depan kosnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan, aku selalu terpikir ibu. Andai ibu memiliki waktu untukku, tentu akan kuceritakan kejadian tadi. Namun bagaimana mungkin. Ibu selalu bekerja setiba aku di rumah. Tak pernah aku tanyakan pekerjaanya. Hanya senyum yang tertinggal ketika ibu akan berangkat bekerja. Lesu dan marah ketika pulang. Namun ketika melihatku, ibu berusaha tersenyum. Seperti ada yang terpendam dalam pikiran ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tahu maksud ibu bekerja. Menghidupi dan menyekolahkanku. Tak pernah tahu yang dipikirkan ibu ketika termenung duduk sendiri. Air mata berlinang. Isak tangis yang tertahan. Sering ibu memandang fotoku dan almarhum bapak. Seperti ada yang mau diucapkan tapi tetap tertahan. Ketika aku datang menghampiri, cepat-cepat diseka air matanya. Isak tangis cepat diubahnya menjadi senyum. Belain tangan mulus menyayang. Kadang kecupannya di keningku mampir begitu saja. Cepat-cepat pula ibu berpamit untuk pergi bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tiba di rumah. Tak seperti biasanya pula terlihat. Ketika memasuki rumah, biasanya kulihat ibu berkemas dan berpamitan. Aneh. Tak kujumpai ibu di persimpanngan pintu rumah. Cemas mulai menghantui. Atau mungkin hanya sekadar cemas yang berlebih karena aku terlambat setengah jam dari biasanya. Kulangkahkah kaki menuju kamar ibu. Kubuka pintu perlahan. Terlihat ibu terbaring di ranjang. Seketika langsung kuhampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu tidak kerja?” tanyaku membisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, Ibu capek dan tidak enak badan,” jawab ibu tertatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Badan Ibu panas, ke dokter ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak usah. Buang-buang uang saja. Mending uangnya kamu pakai untuk biaya kuliah. Nanti juga Ibu sembuh sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kusangka perjuangan ibu begitu besar. Tak seperti yang terpikirkan dan terhayalkan. Ibu yang tak punya hati, kejam, tak mau memperhatikan, ternyata salah. Ibu penyayang dan penuh perhatian, penuh pengorbanan. Bahkan, jika pengorbanan itu harus dibayar dengan harus menahan sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam bertambah buta. Aku menemani ibu yang terbujur lemas di ranjang. Kutunggui di sampingnya. Mencoba untuk mendekatkan jiwa yang lama terpisah. Pikiran mulai mengarahkan mataku. Menggerakkan tangan. Memfokuskan seluruh tubuh pada rahim ibu. Pikiran yang terus mengatakan kalau alat kelaminku tertinggal di sana dan harus segera kuambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu!” berbisik lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Lin. Ada apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu, aku ini perempuan atau laki-laki?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja kau perempuan, Lin. Namamu saja Erlinda Putri. Kau adalah putri ibu yang cantik. Aku bangga, Nak. Mestinya kau juga bangga dan bersyukur dengan dirimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku merasa bukan perempuan. Aku tidak punya dada seperti Ibu. Di atas bibirku mulai tumbuh kumis. Banyak orang memanggilku Dada Putra. Pasti aku mestinya terlahir sebagai laki-laki dan alat kelaminku tertinggal di rahim Ibu. Dan pisau bedah milik bidan yang menolong persalinan Ibu menggores perutku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lega rasanya mengungkap uneg-uneg yang lama bersarang di benak. Meski penuh ketakutan karena mungkin bisa saja ibu akan tersinggung. Namun bagaimana lagi aku akan mengungkapkannya. Atau mungkin kapan. Waktu dan kesempatan yang hadir untuk berbagi pikiran tak begitu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kau berpikir seperti itu, Nak? Kau Linda, putri Ibu. Kau perempuan, Anakku. Yakinlah itu. Dan cobalah untuk bersyukur kepada Tuhan atas dirimu. Cobalah untuk menerima apa adanya segala pemberian Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, aku tak yakin, Bu, kalau aku perempuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunggingan senyum di paras ibu yang cantik menghibur hati. Meskipun dalam pikiran, aku semakin bingung. Semakin yakin dengan keyakinan bahwa aku lelaki yang kehilangan kelamin saat persalinan. Tak pernah kusalahkan ibu dengan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak tahu, Bu. Bagaimana mengasihi dan menyayangi orang lain. Seperti Ibu menyayangi dan mengasihi almarhum bapak. Kalau aku perempuan, tentu akan dapat melakukan yang Ibu lakukan kepada Bapak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sedang jatuh hati dengan seseorang ya, Nak?” tanya ibu seraya menyunggingkan senyum lagi di bibirnya. Membuat parasnya makin nampak ayu. Tak heran kalau almarhum bapak sangat menyayangi ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm tidak, Bu. Mungkin Gugun hanya bergurau. Tak mungkin menyukai diriku yang seperti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum lebar makin terlihat di wajah ibu. Menampakkan seri wajah indah. Aku kontan merasa malu. Kata-kata yang terlontar, mencuat begitu saja dari bibir. Tak kusangka akan ditanggapi ibu dengan senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, semua orang bisa mengasihi dan menyayangi. Termasuk kau. Wajar saja kalau Gugun suka dan sayang kepadamu. Sangat wajar jika kau juga jatuh hati dan ingin menyayangi Gugun. Kita memang digariskan untuk saling menyayangi dan mengasihi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu..,” kupeluk ibu dan seperti merengek di pelukannya, “lantas aku harus bagaimana. Aku merasa diriku adalah laki-laki. Sama dengan Gugun. Rasanya tak pantas jika aku…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah. Gugun menyukaimu karena ada hal dari dirimu yang menarik baginya. Kau cantik. Biarkanlah rasa yang ada itu tumbuh. Sekarang mari kita istirahat. Ibu sudah sangat mengantuk. Kita lanjutkan besok saja. Sepertinya Ibu tidak bekerja lagi besok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi tercipta seketika. Aliran nafas pelan dan teratur mengalir terasa. Kamar hangat membuat aliran darah mengalir terasa di pori-pori. Aku tak bisa berhenti berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecamuk semakin menggelora dalam benak. Tekad yang tertanam dan tertunda untuk kubuktikan akan menjadi kenyataan. Jika saja kuungkapkan kalau aku ingin melihat dan mencari sendiri alat kelaminku di rahim ibu. Namun bibir seperti kelu dan dingin. Tak sanggup untuk berucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari makin larut. Buta dan gelap menggerayangi malam. Mata kami terpejam dengan sendirinya. Tiba-tiba saja mataku terbelalak lebar. Kata maaf lirih terdengar dari mulut untuk ibu. Tangan menggerayang dan merogoh masuk ke dalam rahim ibuku untuk mencari alat kelaminku yang tertinggal. Memang tak salah lagi, alat kelamin laki-laki benar-benar kutemukan di sana. Rasa puas melegakan pikiran. Sekarang aku tahu kalau sebenarnya dan seharusnya aku terlahir sebagai laki-laki. Tetapi, mengapa banyak kutemukan alat kelamin laki-laki di rahim ibu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 30 November 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4789682494913817153-2918010967593487840?l=rodhi-murtadho.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/feeds/2918010967593487840/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4789682494913817153&amp;postID=2918010967593487840' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/2918010967593487840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4789682494913817153/posts/default/2918010967593487840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rodhi-murtadho.blogspot.com/2008/08/cerpen-cerpen-rodhi-murtadho.html' title='Perempuankah Aku'/><author><name>rodhi.murtadho@gmail.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01896127493455867075</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-48ATUiOYUdc/ToBLbSIPmJI/AAAAAAAAABQ/H_11afs_XdI/s220/KUMALA%2BJPG..jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
